Oleh : Endang Supriyati
LBSO PWA Jawa Tengah

Dingin ga ya…… mampu tidak ya saya melakukannnya. Pemikiran itu memenuhi benak sejak menerima pengumuman adanya agenda Jambore Milad ‘Aisyiyah ke –109 di Wonder Park Tawangmangu. Mengingat usia dan setiap kali ada agenda yang harus menginap ditenda, selalu dikasihani atau mungkin dianggap nanti akan merepotkan, sehingga senantiasa tidak dilibatkan. Lapang dada senantiasa aku siapkan, legawa harus, karena akhirnya ragu-ragu juga kalau nekad untuk berangkat. Karena berdasar pengalaman mereka, kalau ibu—ibu senior yang berangkat mereka anak muda akan kerepotan, tidak mau tidur ditenda, semua—mua harus dilayani, sehingga mereka anak muda cape dua kali. Itu pengalaman diluar sana. Menurut mereka para senior selalu membanggakan jamanku biyen, bagi mereka itu sudah berlalu sudah berbeda dengan jaman ini.
Agenda kali ini, semua anggota dilibatkan, diikutsertakan untuk dapat berkontribusi ataupun berpartisipasi dalam gelaran Jambore ‘Aisyiyah di Wonder Park Tawangmangu. Bersyukur saya tergabung dalam Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah. Dalam gelaran Jambore kali ini LBSO PWA tergabung dalam kepanitiaan Jambore. Kegiatan ini dimulai ketika nama-nama anggota LBSO ditambahkan dalam grup Launching Jambore dengan Ketua ibu Dwi Astuti. Zoom meeting awal dengan topic, Rakor Jambore dan Milad ‘Aisyiyah. Kami menyimak dan mengikuti zoom meeting, sambil berpikir dan berusaha menyamakn persepsi terkait Jambore. Karena bersamaan dengan Milad ‘Aisyiyah ke-109 akan di Launching Program Unggulan Majelis dan Lembaga.
Kemudian hadir grup baru lagi dengan identitas Peserta Jambore PWA dengan anggota perwakilan dari semua daerah yang akan hadir sebagai peserta Jambore Milad ‘Aisyiyah. Semua informasi serta pemberitahuan terkait agenda Jambore dibagikan lewat grup peserta Jambore PWA. Sehingga baik perwakilan daerah maupun panitia harus rajin membuka grup agar tidak gagal paham dalam agenda yang akan dilaksanakan. Karena semua informasi terkait Jambore dibagikan melalui grup ini, agar tidak menjawab pertanyaan satu persatu dan semua peserta dapat memahami apa yang harus dipersiapkan. Walaupun tetap saja ada yang mengulang pertanyaan yang sudah dibahas, karena tidak aktip, begitu perlu informasi langsung bertanya tidak mau scroll, informasi yang sudah disampaikan.
Ketentuan peserta Jambore ‘Aisyiyah Jawa Tengah adalah 12 orang, yang terdiri dari ; Ketua PDA atau wakilnya, seorang sekretaris tujuh (7) Ketua Majelis dan tiga (3) Ketua Lembaga, utusan dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) tidak boleh merangkap sebagai utusan PWA. Jika anggota BPP PWA merangkap sebagai Ketua Majelis atau Lembaga didaerahnya, maka harus memilih salah satu. Mewakili PDA atau mau mewakili PWA. Paling lambat pukul 07.00, pada hari Sabtu 27 Juni 2026 harus sudah masuk lokasi Jambore di Wonder Park Tawangmangu. Walau kenyataannya ada juga peserta yang baru masuk lokasi sudah diatas pukul 09.00. positip thinkingnya mungkin terkendala dalam perjalanan karena kita semua tidak menahu kondisi dalam perjalanan seperti apa. Dimaklumi aman dan dapat melanjutkan mengikuti kegiatan yang sudah setengahnya terlaksana.
Berbagai macam pertanyaan muncul di grup Peserta Jambore PWA, apakah kamar mandinya banyak, jauh tidak dari lokasi tenda. Kemudian fasilitas apa yang ada dalam tenda, mengingat usia kami yang sudah senior, itu pertanyaan peserta dari berbagai daerah. Matrasnya tebal apa tipis, apakah masing—masing orang satu matras. Apakah tersedia dispenser air panas, jika kami malam-malam perlu miniman hangat. Dalam tenda ada bantal tidak ya, ataukah ada yang menyewakan sleeping bag. Berseliweran pertanyaan di grup terkait dengan kebutuhan pribadi dan kelompok, jika kita rajin menengok grup maka kita akan mengetahui apa sebenarnya yang harus kita persiapkan ketika kita harus tidur ditenda. OC Jambore Milad ‘Aisyiyah luar biasa, walau berkali kali pertanyaan yang sama muncul, tetap diberikan jawaban dengan santun.
Jum’at 26 Juni 2026, agenda keberangkatan menuju lokasi Jambore dimulai, pagi hari sekitar pukul 10.00 kami meluncur ke Semarang, menuju kampus UNIMUS. Kami kontingen LBSO PWA Jateng berjanji berangkat bersama dengan titik kumpul di Satpam UNIMUS. Diantara anggota LBSO saya bertinggal diujung barat yaitu kota Pekalongan, sehingga kami harus prepare waktu agar menyampai di UNIMUS dapat melakukan sholat Dhuhur dan Ashar, dan suami tidak ketinggalan sholat Jum’at. Alhsmdulliah Allah SWT ijinkan, sehingga kami punya cukup waktu dapat istirahat dan melaksanakan sholat dengan tenang tanpa terburu—buru. Numpang duduk di lobby LazisMu, dapat rejeki sedekah Jum’at berupa nasi kotak dan es teh untuk membasahi tenggorokan dicuaca yang cukup panas.
Kami bertiga stay di satpam UNIMUS menunggu anggota LBSO yang belum hadir, dengan tujuh anggota sebagai peserta Jambore kebijakan ibu ketua LBSO membawa dua kendaraan agar kami semua nyaman dengan bawaan yang segunung. Padahal menginap hanya dua malam ternyata bawaan tidak cukup dalam satu tas saja. Ada koper, ada carrier bag, ada tas belum lagi kelengkapan yang lain, saya bawa juga sleeping bag, belum lagi tas selempang untuk bawa mukena agar tidak bolak balik kedalam tenda. Dengan segala dinamikanya, kami lepas dari UNIMUS hampir pukul 13.30, yang semula direncanakan berangkat pukul 13.00, setelah sholat Jum’at. Dua kendaraan beriringan saling menempel agar tidak kehilangan jejak menuju exit toll Ungaran, karena satu anggota bu Ningtyas menunggu disana.
Perjalanan dilanjutkan menuju RM.H.Ismun di Tuntang, untuk makan siang karena memang kami semua belum sempat makan siang, bersama sang owner bunda Ahyati Rahayu.menu yang tersedia sangat lengkap tetapi menurut bunda Mazi paling favorit adalah Sop Daging Sapi. Ternyata betul, nasi Sop Daging Sapi menggoyang lidah, dengan sayuran segar ditambah potongan tahu, dengan kuah bening yang gurih…wouw yummy. Menu lainnya adalah menu rumahan, terhidang secara prasmanan, ada buntil daun papaya maupun daunt alas, kemudian ada sayur papaya muda, ada gudeg, bandeng, ayam goring dan masih banyak lagi. Karena targed utama adalah Sop Daging Sapi, yang melegenda sehingga kami hanya melirik menu yang lain sekedarnya. Ketika itu waktu makan siang sudah sedikit terlewat sehingga dengan menu yang panas segar, menambah energy karena perjalanan yang harus kami tempuh masih jauh.
Kembali masuk toll Ambarawa, kami melanjutkan perjalanan menuju Tawangmangu, waktu sudah cukup sore. Mobil yang kami tumpangi dengan driver mas Agus menempel ketat dengan mobil yang di nakhodai dr, Fuad suami bunda Mazi. Dengan laju kendaraan cukup kencang sempat..takut juga…..karena setiap kali perjalanan dengan kecepatan mendekati 100km/jam biasanya mulut ini sudah comel, Alhamdulillah dapat saya tekan dan tidak comel. Dalam hati dzikir tidak berhenti, kadang diseling dengan ngobrol untuk menghilangkan rasa spechles. Bunda Ahyati duduk didepan menemai mas Agus, beliau ngobrol santai, kami berdua bunda Bararah duduk dibangku tengah, bangku belakang berisi barang bawaan. Setelah memasuki kota Solo, kami mencari akses keluar untuk menjemput mbak Murni yang menunggu di Palur. Lengkap sudah anggota LBSO PWA peserta Jambore Milad ‘Aisyiyah, kami hanya bertujuh karena ada anggota yang batal berangkat, juga tidak mendaftar untuk ikut Jambore.

Adzan Magribh sudah terdengar dalam perjalanan ketika kami mulai menapak Karanganyar, menuju Tawangmangu. Jalanan mulai berkelok naik dan kendaraan roda dua mungkin orang pulang kerja cukup ramai. Ketika mas Agus menyampaikan bahwa kalau malam, saya tidak dapat membaca tulisan dipinggir jalan…..sempat kaget dan takut. Tetapi bunda Ahyati menanggapi dengan santai ..ya kalau begitu tidak perlu mengajak ke warung sate ya….akhirnya kami semua tertawa. Menaik Tawangmangu dengan situasi sudah cukup gelap disana sini, rasanya seperti orang bingung tidak menahu jalan. Ketika sudah mulai terlihat bendera ‘Aisyiyah terpasang dipinggir jalan nyicil ayem berarti sudah dekat lokasi yang kami tuju. Akhirnya tibalah kami bersama rombongan LBSO PWA Jawa Tengah dilokasi Jambore dengan selamat mendekati waktu sholat Isya’. kemudian setelah mendapatkan lokasi tenda kami semua mencari tempat mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat yang sedikit tertunda.
Pekalongan, akhir Juni 2026.