
Pendopo RM Garangasem Masduki
Oleh: Endang Supriyati, IRotizen Kota Pekalongan
Undangan keren yang saya terima, dari admin Warung Garang Asem Masduki. Tidak pernah saya duga dan tak pernah terpikirkan, bahwa owner Warung Garang Asem Masduki, sangat menghargai pelanggannya yang disebut dengan nama, Rencang Masduki. Hari Ahad 27 Oktober 2024 adalah sangat istimewa, lagi berpikir bagaimana cara dapat mengulik Kuliner Khas kota Pekalongan, mendapat undangan Dongengan sareng Rencang Masduki, yang namanya pucuk dicinta ulam tiba. Dalam undangan nampak tertulis ada tiga Narasumber, Moderator, juga GM Warung Masduli ibu Syarifah Hidayatulah, beliau adalah Generasi ketiga. Dalam kata sambutannya beliau sampaikan, bahwa marketing Warung Masduki tidak muluk-muluk, marketingnya adalah Lillahi Ta’ala, hanya gethok tular saja dari para pelanggan yang sudah mnikmati hidangan Warung Masduki.
Untuk selanjutnya beliau sang General Manager( GM) menyampaikan rasa terima kasihnya kepada segenap pelanggan yang setia yaitu Rencang Masduki. Sebutan ini digunakan untuk lebih mendekatkan rasa persaudaraan dengan para pelanggan setianya. Warung Masduki generasi pertama sudah sejak tahun 1959, awalnya jualan Megono. Kenangan masa kecil bu GM, unuk juga, karena simbah Masduki kalau mau jualan lewat depan rumah masa kecil beliau maka selalu ditunggu bau wangi megono pada saat simbah mau berangkat jualan. Jika sudah tercium bau wangi, maka komentarnya adalah simbah liwat…simbah liwat. Jika pulang sekolah dijemput ayahanda maka bu GM akan menempel dipunggung, konon katanya untuk menghirup keringat bau Garang Asem. Mungkinkah hal itu masih dilakukan oleh generasi masa kini rasanya mustahil.

GM Warung Garang Asem Masduki
Selanjutnya adalah dongengan sang Owner Warung Masduki bapak Slamet Sudiyono, beliau sampaikan Tema, Dongengan Bareng Rencang Masduki adalah” Perjalanan Memelihara Warisan Rasa Jagad Nusantara” tema yang sangat luar biasa. Untuk dapat menjaga ataupun memelihara warisan kuliner, karena orangtua merajut mimpi bersama putra putrinya. Untuk dapat merajut mimpi adalah keluarga orangtua nyambung dengan anak-anaknya. Banyak sekali bisnis Rumah Makan yang pada akhirnya tutup karena anak—anak tidak ada yang mau meneruskan. Tidak lupa juga beliau mohon maaf jika banyak hal membuat Rencang Masduki tidak berkenan karena pelayanan yang diberikan. Serta memohon doa dan dukungannya agar selalu eksis menjaga nilai –nilai warisan nusantara, terkait dengan Bisnis Kuliner yang dijalaninya.
Sebelum sang Owner melanjutkan dongengannya ada informasi yang disampaikan MC bahwa, Warung Masduki di Jln. Jend, Sudirman dibuka pada bulan Desember 2013 oleh Generasi kedua yaitu Sang Owner bapak Slamet Sudiyono. Warung Masduki New Generation menuju Warung ramah lingkungan. Warung di Jln. Jend. Sudirman tidak menyediakan tisue tetapi diganti dengan lap makan, tidak untuk dibawa pulang tetapi sebagai pengganti tisue. Kemudian sedotan plastik juga tidak tersedia, tetapi disediakan sedotan stainles, yang seringkali untuk minum es teh dsb. Jika belanja di Warung Masduki tidak ada tas plastik, kalau mengingnkan tas plastik harus bayar. Sehingga Rencang Masduki diharapkan membawa tas dari rumah. Kemudian yang lebih menarik jika Rencang Masduki belanja membawa wadah sendiri akan mendapat discon sebesar 7%. Waow…keren. Inovasi baru menjaga lingkungan, No Plastic, No Sampah.
Sang Owner menyambut hadirnya Rencaang Masduki yang artinya adalah pelanggan setia. Banyak hal didongengkan oleh beliau, antara lain bahwa diera 80 an, generasi muda wegah dolanan warung.. gengsi kerja neng warung. Tetapi diera saat ini banyak kawula muda yang mempunyai usaha warung memang istilah yang digunakan dengan bahasa anak muda Cafe bukan warung lagi. Banyak kawula muda tidak malu pergi ke pasar untuk belanja kenutuhan warungnya. Beliau juga mendongengkan pada saat membantu orangtuanya , seringkali menyaksikan pedagang marah—marah dengan pelanggannya. Anehnya pelanggan itu tetap menjadi pelanggan setia, walaupun sudah dimarahi pedagangnya. Jika saat ini terjadi, mungkinkah tetep setia sebagai pelanggan. Rasanya tidak mungkin, justru akan muncul sumpah serapah dan langsung kabur.
Perilaku orang ngiras, marung, andhok bahasa Jawa Timunya sudah sangat berbeda, Jaman dulu di era 80—90 an jika ke warung pesan makanan, apabila makanan sudah tersaji maka akan langsung dinikmati. Tetapi masa kini makanan pesanan tersaji maka akan dilihat dulu, digeser kekanan dan kekiri, kemudian difoto, baru dinikmati. Tetapi sebenarnya menguntungkan jga bagi pemilik warung karena akan menjadi iklan secara tidak langsung, tanpa harus bayar. Beliau juga ndongeng, pada saat lulus kuliah sekitar tahun 1988, mengajukan permintaan kepada ayahandanya untuk buka Cabang Warung Masduki. Tetapi jawaban yang diperoleh berbeda, “Bapak pingin kowe kerja neng kantoran, nggawa koper, terus nganggo sepatu sing munine thak..thuk ngono kae “

Narsum: Dongengan Bareng Rencang Masduki
Fenomena yang terjadi di Pekalongan banyak warung rame, tetapi tidak dapat menabung. Dulu ada warung makan , yang sekarang jadi Plaza Matahri rame dan laris. Juga ada warung berkat, rame dan laris juga, tetapi karena tidak ada generasi berikutnya yang mau meneruskan akhirnya tutup. Singkat cerita pak Slamet akhirnya dapat buka warung sendiri dibelakang Apotik Sumber Waras. Mengambil istilah pak Harto kala itu, Intensifikasi, sehingga hanya buka dipagi hari saja. Karena modal masih sedikit otomatis barang dagangannya juga sedikit, sehingga tampilan baskom wadah dagangan juga kecil-kecil. Dengan tampilan yang mungkin dianggap kurang meyakinkan sehingga kena mental oleh pelanggan, “ iki turahan dek bengi po…..piye kok didol maneh”. Tak terbayang apa yang beliau rasakan mendapat cercaan dari pelanggan seperti itu.
Mendengarkan kritik pelanggan, agar tidak dianggap turahan maka beliau membuat menu pembeda, antara lain Acar Nanas, Acar Otak yang memang belum ada dimenu sebelumnya menu utama tetap Garang Asem. Barulah mendapat kepercayaan dari pelanggan, bahwa dagangan pagi yang dihidangkan bukan turahan jualan malam hari. Dalam membuka warung sumber masalah utama adalah uang, atau cuan. Jika tidak pandai mengelola uang, maka dagangan habis tetapi uang tidak ngumpul alias laris manis tapi kotak uang kosong.
Flash back kebelakang, awal mula buka di Jln. Jemd. Sudirman banyak kritikan yang diterimadari pelanggan. Karena mau mendengarkan kritikan pelanggan akhinya muncul inovasi baru, muncul ide-ide baru. Sekaligus juga belajar dari apa yang pernah ayahanda beliau ajarkan. Beliau menyampaikan bahwa, bapak saya itu guru, mentor sekaligus teladan yang luar biasa. Melayani pelanggan dengan tulus, orangnya suka mengalah kepada pelanggan. Jika ada pelanggan yang makan diwarungnya membayar dengan uang gedhe, artinya belum ada uang kembalian, maka sudah silakan dibawa dulu gampang lain kali. Pada saat itu pelanggan tetap bertanggung jawab, lain waktu tetap membayar apa yang sudah dimakan..
Saya pernah meniru apa yang bapak saya lakukan ternyata hasilnya berbeda dongengan pak Slamet. Sekali marung bayar dengan uang besar, belum ada kembalian, sudah dibawa dulu. Lain kali datang lagi dengan perilaku yang sama, tetapi juga tidak mengatakan bahwa kemarin belum bayar. Ya…tak titeni. Untuk yang ketiga kalinya begitu lagi yang dilakukan maka saya menukar uang untuk memberikan kembalian, tetapi tetep tidak mengatakan bahwa pernah makan belum bayar. Ternyata seru dongengan pak Slamet Sang Owner Warung Masduki. Karena acaranya memang dikemas santai, sehingga dapat mengalir apa yang didongengkan. Sampai Warung Masduki berusia yang cukup matang 65 tahun. Generasi yang berbeda, di era yang berbeda ternyata berbeda juga. Menurut pakemnya masing–masing, empati dan simpati generasi old dan new generation ternyata tidak dapat disama ratakan.
Narasumber kedua dalam Dongengan Bareng Rencang Maduki adalah bapak M. Dirhamsyah adalah Pegiat Literasi Sejarah Pekalongan, Sejarah marung, Ngiras Warung Masduki. ulasan dalam dongengan mencari sumber informasi asal mula Garang Asem Masduki. Beliau sampaikan terkait Prasasti yang ditemukan di Batang, Prasasti Rogosela, Pajaksimo, tidak ditemukan Garang Asem seperti Resep Garang Asem Masduki. Yang ada adlah Rawon Jawa Timur dimodifikasi menjadi Garang Asem. Garang Asem didaerah lain, tidak sama dengan Garang Asem Masduki Pekalongan. Garang Asem adalah kekayaan komunal Pekalongan dengan Narasumber bapak Slamet Sudiyono.
Pembicara ketiga adalah Rencang Masduki, pelanggan setia bapak Susilo Andi. Beliau sampaikan menjadi pelanggan Warung Masduki sejak kecil, menu andalan Nasi, megono, rendang lidah, dengan dua gelas teh tawar gratis…. gemuruh tawa peserta dongengan mendengarkan cerita beliau. Beliau juga menyampaikan, mengapa banyak menu yang awalnya ada sekarang menghilang, misal acar tenggiri, sayur kangkung, iga. gorengan pagi dan sore beda, kalau pagi tepungnya nempel, kalau sore tepungnya menghilang. Memang kocak bapak yang satu ini. Sekarang minum teh bayar, tapi kalu jok nambah gratis. kita harus pinter mensiasati, sambil tertawa. Sampai sudah menikahpun pak Andi setia setiap pagi makan di Warung Masduki. Menurut beliau , rahatnya karyawan luar biasa, beliau mengenal mas Pur yang sangat baik, pada saat pak Andi putranya yang masih maka, anak itu diminta mas Pur untuk diajak keluar. sehingga pak Andi bersama isteri dapat menikmati santapan pagi dengan tenang, karena anaknyaa dimomong mas Pur.

Bersama Owner dan GM Warung Masduki
65 tahun sudah usia Warung Masduki, lebih dari setengah Abad. Walau sang GM ibu Syarifah mengatakan bahwa Marketingnya Lillahi Ta’ala tetapi dapat bertahan lebih dari setengah Abad, dapat dipastikan ada sesuatu yang istimewa dalam pengelolaannya. Bukan kaleng-kaleng ada warung dapat bertahan puluhan tahun. Kawula muda yang ingin bisnis Warung belajarlah ke Warung Masduki yang Legend. Awal saya mengenal dan menikmati Garang Asem Masduki di warung yang ada di Alun–alun Pekalongan , dan sampai sekarang jika menjemput anak–anak pulang mudik, turun di stasiun Pekalongan maka mobil akan mengarah ke Allun-Alun untuk berburu Garang Asem Masduki. Kata mereka tidak ditemukan ditempat lain. Semoga dengan bertambahnya usia Warung Masduki, semakin eksis, semakin menginspirasi, kualitas tetap terjaga. Dapat memelihara Warisan Rasa Jagad Nusantara. Bravo Warung Masduki. dengan tagline yang keren, saya suka, #Warung Masduki # Dhahar Nganti Telas.
Pekalongan, 28 Oktober 2024
Mantap, terima kasih Bunda Endang
Senangnya dapat menebar jala enterpreneur