
Mbak, Mas pernah pernah ke kebun durian Sigarung Pekalongan ?. Pertanyaan menggelitik yang membuat penasaran, ternyata lebih viral di IG dan Youtube, tetapi yang bertinggal di Pekalongan karena kurang piknik justru baru menahu. Karena selama ini kami lebih mengenal durian ya desa Lolong atau desa Doro, Mutiara Durian. Dipagi yang cukup cerah, Ahad, 21 Desember 2025, berdua kakungnya mas Gagam dan dik Adam, kami berkendara menyusuri jalur gowes yang biasa kakung lalui, sekaligus ingin menahu dimana kebun durian Sigarung.
Niat awalnya memang mau traking jalur gowes kearah Lebakbarang, berhubung ada pertanyaan terkait kebun durian Sigarung ya….sekalian jalan-jalan berkendara motor. Dari rumah mengambil arah ke Kedungwuni Kab. Pekalongan, kemudian melewati desa Karanggondang menuju Wangandowo. Masuk perkampungan didesa Sumur Jomblangbogo, mengikuti jalan desa maka kita akan menyampai didesa Kalipancur, desa berlokasi arah belakang Kampus UIN KH. Abdurahman Wahid, yang lebih dikenal dengan UIN Gus Dur. Desa Kalipancur serasa berada dibawah Kampus, karena Kampus terlihat diketinggian seperti berada diatas pegunungan. Pemandangannya indah, desa itu berada dibawah rimbun pepohonan hijau.
Melewati persawahan dengan tanaman padi yang menghijau di desa Grugak, terlihat Gunung Slamet berdiri dengan gagah dikejauhan, dengan langit biru yang cerah seakan kami berwisata ditempat yang jauh, padahal ternyata cukup berkendara motor sudah mendapatkan oksigen gratis sekaligus pemandangan yang indah. Setelah keluar masuk kampung , maka ujung jalan ini tembus ke SMK Muh. Kajen, pas berbarengan dengan seleseinya acara Pengajian PDM Kab. Pekalongan, terbayang macet poll. Tembus Alun-alun Kajen sama saja, sami mawon, karena hari Ahad hampir semua warga tumplek bleg, berkegiatan di alun–alun, ada yang sekedar duduk sambil menikmati kuliner yang ada, juga ada yang berolah raga, bersepeda dan lain sebagainya. Akhirnya kami berusaha menghindari daerah macet, menuju arah Jalan Raya Karanganyar untuk menuju kebun durian Sigarung.

Jalan Raya Karanganyar- Lebakbarang adalah akses penting di Kabupaten Pekalongan , Jawa Tengah menuju destinasi wisata Lolong Adventure, juga kearah Kebun Durian Sigarung. Memasuki daerah ini sedikit ngeper karena dikanan kiri, jalan yang kita lewati akan kita temukan perngatan ” Waspada Tanah Longsor dan Pohon tumbang “. Terlihat juga bekas longsoran tanah karena memang berbukit, kemudikan pohon tumbang yang sudah dipotong, sehingga terbayang jika hal itu terjadi maka kita tidak akan dapat lewat, karena satu-satunya akses jalan. Serta jalan yang kita lewati tidak semuanya mulus, banyak yang rusak, berkelok naik turun, kadang juga berkelok agak ekstrem. Bagi penduduk setempat hal itu bukan masalah, sehingga kalau kita berpapasan, mereka jalannya tetap kenceng, sementara kita ekstra hati–hati karena tidak hapal kondisi dan situasi jalan yang ada. Angkutan umum yang ada adalah colt bak bukaan, penumpang baik lelaki maupun perempuan berdiri di bak terbuka. Kita akan menemukan tugu Selamat Datang di Kawasan Wisata Kabalong, sebelum menyampai di Lolong. Lolong Adventure berlokasi di desa Lolong Kecamatan Karanganyar. Terdapat wahana Rafting di Sungai Sengkarang yang arusnya cukup deras. Buah durian adalah daya tarik utama desa Lolong, dalam even tertentu pemerintah Kabupaten Pekalongan menggelar Festival Buah Durian di Lolong. Berjarak kurang lebih 1 km, kita akan temukan wisata Kebun Durian Sigarung.

Ketika kami melewat kebun durian Sigarung sekitar puokol 08.00, sepi, sihingga kami berpikir ini hoak apa nyata. Ee…. ternyata warung ini atau kebun durian Sigarung buka pada pukul 10.00, pantes lewat pukul 08.00 masih sepi. Menikmati indahnya kawasan wisata Kabalong, sebenarnya sangat memanjakan mata, hutan yang rimbun hijau royo-royo, rasa ayem ing desane pak tani ( Koes Plus). Ketika tidak terbaca peringatan ” Hati–hati rawan longsor dan pohon tumbang”. Juga pohon durian dengan buahnya yang sudah mulai diikat, agar tidak jatuh ketika masak dipohon. Karena Lolong memang sentra durian disamping desa Doro, sehingga sepanjang jalan arah ke Lebakbarang, pohon durian yang rata-rata pohonnya besar dan buahnya banyak atau istilahnya “rendel”. Kemudian juga ada peringatan dengan MMT yang sangat lebar denga tulisan ” Siapa yang mengambil bukan haknya sama dengan mencuri”. jadi maksudnya jika kita menemukan buah durian yang jatuh tetapi masih dalam kawasan kebun, walau tidak ada pemiliknya tidak boleh diambil, kecuali jatuhnya dijalan raya. Peringatan yang cukup unik, tetapi ternyata mempan istilahnya, walau kita melihat durian jatuh maka kita tidak akan masuk kekebun orang. Sehingga buah durian yang diperkirakan hampir masak maka akan diikat dengan tali rafia. Pas sudah masak jatuh, maka akan tetap menggantung dipohon.

Setelah melewat desa Lolong dan kebun duria Sigarung, kami melanjut kedaerah atas arah Lebakbarang, dengan tujuan Curug Kahyangan melewat Pembangkit Listrik Microhidro di desa Lebakbarang. Dengan jalan yang lumayan ekstrem, jalannya sedikit rusak, sempit aspalnya sudah banyak mengelupas, tetapi warga berani mengangkut penumpang dengan mobil bak terbuka dengan jalan yang cukup kencang. Padahal kondisi jalan berbelok-belok, naik turun. Banyak kelokan yang cukup tajam, tetapi mungkin warga setempat sudah menahu medan yang dilalui sehingga mereka tetap mengemudi dengan kencang. Dalam hati berpikir, Alhamdulillah tidak bertinggal didaerah ini, untuk akses keluar desa cukup rumit. Lingkungan adem, ijo royo–royo, pada pukul 11.00 siang warga masih bekerja disawahnya, ada yang menyebar pupuk, ada juga yang mencari rumput untuk ternaknya. tidak kalah juga banyak emak-emak perkasa yang menggendong rumput, juga membawa kayu bakar, kalau dilihat phisiknya sudah tidak muda lagi, tetapi mereka terlihat sehat perkasa. Jalan yang harus mereka lewati berbagi dengan pengguna jalan yang lain, sehingga saat berpapasan kita harus saling mengalah karena jalannya cukup sempit.

Agar sampai di Curug Kahyangan maka kami menuju desa Bantar Kulon, Lebak Barang, melewati PLTM Lebak Barang. Jalan mulai menyempit dipinggiran tebing walau tidak terlalu tinggi dipinggir kali Sengkarang. Berjarak sekitar 2.5km dari PLTA Mikrohidro, kita akan menemukan tugu Selamat Datang desa Kapundutan. Terpampang juga tuisan Curug Kahyangan, menyeberang jembatan, kemudian ada area parkir bagi pengunjung. Dengan lokasi yang cukup susah untuk dijangkau ternyata banyak juga pengunjung yang menikmati keindahan Curug Kahyangan. Mereka rata–rata menyewa kendaraan berupa mobil bak terbuka, yang dapat mengangkut cukup banyak penumpang. Jujur jia kami harus menumpang mobil bak terbuka, rasanya lebih baik mundur tidak jadi berangkat. Kami berkendara motor, dengan hati yang ketar–ketir, mengingat jalan yang sempit dan berkelok lumayan tajam. Tetapi warga setempat, Masyaa Allah sopan sekali saat berpapasan dengan sesama pengguna jalan. Karena jalan yang sempit maka dalam berkendara tidak berani berjalan cepat, disamping belum hafal lokasi juga disebabkan jika berpasan kita harus saling berbagi jalan. Baik warga maupun pengendara motoryang lain ketika berpapasan, maka mereka akan menggangguk dan tersenyum.

Curug Kahyangan berlokasi di desa Kapundutan, Lebak Barang Kab. Pekalongan. Walau banyak pengunjung yang datang, tetapi Curug Kahyangan masih tergolong sepi, wisata disini gratis, asyik untuk ciblon karena airnya jernih. Bagi anak–anak begitu menyampai langsung turun ke area curug untuk ciblon, bermain air, tetapi bagi orang dewasa belum dapat dilakukan, karena belum dikelola sehingga belum tersedia tempat bilas ataupun toilet disekitar lokasi. Airnya jernih, dingin juga tidak terlalu dalam, karena curugnya memang kecil. Tempatnya pas dipinggir jalan dan gratisss. Curug ini masih alami dan sangat asri, pemandangan alamnya sangat menakjubkan. Terbayar sudah rasa deg–deg an saat berangkat, ketika kami temukan pemandangan alam yang sangat indah, yang tidak akan kita temukan dikota.

Desa Kapundutan, Lebak Barang Kab. Pekalongan.
Wouw. Hebat para senior usia keemasan berdua-dua bak remaja yang sedang betcinta, menyusuri jalan yang cukup panjang bakelok-kelok, baliku-liku sampai menemukan tujuan yang dicari. Terbayanglah olehku karena perjalanan itu pernah kualami saat menunaikan tugas dimasa tahun 1980 an, tentu saat itu jalannya lebih jelek dibanding sekarang. Yang lebih hebat di usia keemasan ini menempuh perjalanan melewati 5 Kecamatan yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain pada umumnya, karena jalur ini menempuh jarak lebih jauh. Ya…. kan sengaja remaja bercinta memilih jalur yang jaraknya lebih jauh, meskipun penuh tantangan dan menyebarkan jantung.
Jembatan gantung Lolong peninggalan Belanda yang mempunyai sejarah dilewati para pejuang yang mengungsi melalui jalur lebakbarang menyusuri desa Kutarembet sampai ke Kalibening kawasan wilayah kab. Banjarnegara kiranya dapat ditambahkan dalam tulisan ini.
Jembatan Lolong juga menginspirasi Ebiet G. Ade mencipta “LOLONG”
Wouw. Hebat para senior usia keemasan berdua-dua bak remaja yang sedang betcinta, menyusuri jalan yang cukup panjang bakelok-kelok, baliku-liku sampai menemukan tujuan yang dicari. Terbayanglah olehku karena perjalanan itu pernah kualami saat menunaikan tugas dimasa tahun 1980 an, tentu saat itu jalannya lebih jelek dibanding sekarang. Yang lebih hebat di usia keemasan ini menempuh perjalanan melewati 5 Kecamatan yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain pada umumnya, karena jalur ini menempuh jarak lebih jauh. Ya…. kan sengaja remaja bercinta memilih jalur yang jaraknya lebih jauh, meskipun penuh tantangan dan mendebarkan jantung.
Jembatan gantung Lolong peninggalan Belanda yang mempunyai sejarah dilewati para pejuang yang mengungsi melalui jalur lebakbarang menyusuri desa Kutarembet sampai ke Kalibening kawasan wilayah kab. Banjarnegara kiranya dapat ditambahkan dalam tulisan ini.
Jembatan Lolong juga menginspirasi Ebiet G. Ade mencipta lagu “LOLONG”
Wow..jadi kepingin touring k Curug Kahyangan
Mturnuwun info wisata gratisnya Bunda…