Oleh: Endang Supriyati, IRo Society Pekalongan

Ahad 21 September 2025, ada waktu agak senggang kami keluar rumah berdua dengan tujuan mencari warung Sega Abang. Menu sederhana tetapi ternyata menjadi tujuan banyak warga dan rata-rata warga dari luar daerah. Jarak yang kami tempuh sebenarnya tidak terlalu jauh hanya sekitar 18 km dari kota Pekalongan. Tetapi karena akses ke tujuan dengan jalan yang lumayan ekstrem naik turun dan berkelok, sehingga terasa sangat jauh. Padahal setelah kami lihat berapa lama kami berkendara, hanya kurang lebih satu jam dari rumah. Kami melewat jalan rute gowes kakungnya mas Akbar, sehingga dari Jalan Pandansari kami mengarah kesisi bendung Krompeng menuju desa Batursari. ditengah kebun yang kami lewati sebelah kiri dikejauhan sana terlihat Bendungan Krompeng. Kami susuri jalanan semakin lama semakin menaik dan membelok yang lumayan tajam. Suara mesin motor seperti tidak kuat menahan beban, dengan gigi persneling satu sambil menahan nafas kuat tidak ya sampai diatas. Karena lebar jalan hanya cukup untuk berpapasan sesama motor sehingga, tidak was–was ketemu kendaraan roda empat.

Warung sederhana dipinggir jalan desa, posisi dipertigaan jalan arah ke Sodong dan pada sisi yang lain menuju Pasar Manis. Walaupun warung ini cukup sederhana, tetapi pengunjungnya mbanyu mili, ada mobil parkir juga pesepeda dari kota Pekalongan, Batang ataupun warga sekitar. Begitu masuk ke warung maka tungku sebagai alat masak langsung terlihat, serasa pulang kampung kedesa Blondo, jika ketemu tungku berbahan bakar kayu. Tidak ditemukan kompor disini, kata ibu penjual, kami tidak punya kompor, saya lupa tidak menanya nama ibu penjual diwarung. Mungkin juga hal itu menjadi Branding warung Sega Abang Kedungmalang, dengan memasak menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Diluar warung terlihat banyak tumpukan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Sehingga khas rasa masakan kampung dengan tungku, menu yang disediakan sederhana tetapi sedap dirasa, cukup komplit aneka menu yang tersedia. Ada urab daun sintrong, pertama kali saya mencicipi dan merasakannya, kemudian aneka lauk yang lain ada wader, ikan goreng, telur sambal petai tak ketinggalan semur jengkol. Menu ndesa Gen Z menyebutnya, tetapi lokasi warung ini cukup strategis dan lingkungan yang indah, sehingga makan disini terasa nyaman dan enak. Dibelakang warung ada sungai berbatu yang airnya jernih nampak dari, ada jembatan menuju ke Pasar Manis, juga terdengar bunyi thak..thok orang memecah batu kali. Tak ketinggalan persawahan yang terlihat hijau royo–royo, juga tanaman hutan milik Perhutani.

Setelah cukup bersarap pagi lauk urab Daun Sintrong, sambel pete dan telur, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Sodong. Disini adalah kawasan Hutan Pinus milik Perhutani, semasa sebelum Covid_19 melanda merupakan daerah Wisata Hutan Pinus. Sisa-sisa daerah wisata itu masih terlihat, ada ayunan, ada pondok–pondok kecil, tetapi sejak dilanda c0vid_19, sudah tidak beroperasi lagi. Melanjutkan menyusuri jalan ketemu Tugu Selamat Datang desa Sodong, kami lanjutkan perjalanan, akhirny menemukan Gapura Selamat Datang Desa Wisata Silurah. Terbaca nama yang unik, penasaran ada apa didesa wisata Silurah. Dipinggir jalan terbaca Peta Area Wisata Silurah, tetapi ketika bertanya kependuduk sekitar agak speachless karena warga tersebut mengatakan tujuan kami ada ditengah hutan dan hanya dapat dijangkau dengan jalan setapak. Serta tidak ada tempat menitipkan kendaraan. Nah..bagaimana ceritanya kalau seperti ini. Tetapi karena dalam hati masih tersimpan rasa penasaran, maka kami tetap melaju kearah Situs Sejarah Ganesha. Bapak tadi menjelaskan, setelah bapak menemukan Lapangan bapak belok kanan akan ditemukan Gapura Situs Sejarah Ganesha, belok kekanan ikuti jalan. Kita ikuti jalan semakin semakin kedalam semalin sepi dan jalan juga semakin sempit, yang kita temukan adalah para penebang pohon. Horor juga…nih. Kemudian yang kami temukan adalah Gapura Curug Bidadari, arahnya kemana tidak jelas dan jalan setapak yang ada, kanan kiri ditumbuhi rumput yang tinggi. Akhirnya saya katakan ke Kakung mas Akbar, kita putar balik sajalah…tujuan tidak jelas.

Akhirnya kami putar balik kembali menyusuri jalan kearah Sodong, rupanya untuk kedaerah atas lagi kami tidak berani karena tidak ada maps yang dapat kami andalkan. Untuk sampai ke Batursari, ke Sodong, ke desa Silurah itupun kami beberapa kali menanya penduduk yang kami temui. Sampai kembali ke Warung Sega Abang Kalimalang ambil arah kekanan menyeberang jembatan menuju ke arah Pasar Manis. Diujung jembatan terdapat sebuah pondok seperti pos Kamling, ternyata disitu tempat transaksi penjual pete. Ada beberapa bongkok pete yang siap naik mobil bak terbuka. Didaerah ini lagi musim pete, banyak bapak petani memanen pete kemudian berkumpul di pos ujung jembatan untuk bertransajksi dengan tengkulak. Bunga Durian masih berguguran, sepanjang perjalanan kanan kiri hutan, tanaman keras, tetapi juga buah pete bergelantungan, bunga durian masih berguguran disepanjang jalan. Didaerah Sodong, saya dapat menemukan tanaman Kluwak, buah kluwak bakal bumbu Pindang tetel, juga Rawon dan Garang asem Pekalongan, buahnya sering kita lihat tetapi pohonnya baru kali ini saya menahu.

Hutan lebat hijau royo–royo, akan kita temukan disepanjang perjalanan, Pemandangan indah jarang kita temukan diperkotaan, ayem tentrem ing ndesane, menurut lagunya Koes Plus. Menuju Pekalongan kami mencari jalan berbeda, menuju arah Pasar Manis, akhirnya sampai ke Wonotunggal, jika belok kekanan akan menyampai ke Bandar, kami ambil arah kekiri menuju Batang. Lumayan juga berkendara menempuh jarak sekitar 56km, sudah senior ternyata capai juga. Tetapi mata sehat dengan pemandangan alam yang indah. Targed awal hanya ingin mencicipi Sega Abang dengan menu desa, tetapi akhirnya penasaran untuk menelusuri jalur yang belum pernah kita lewati.

Pekalongan, 22 September 2025

22-09-1982…..22-09–2025

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?