
Oleh: Endang Supriyati LBSO, PWA Jateng.
Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, menyelenggarakan Webinar dengan tema Dialog Dakwah dan Budaya secara hybrit pada hari Sabtu, 25 April 2026. Webinar diikuti LBSO PWA dan PDA se Indonesia. diruang zoom hadir 131 partisipan. Sedang di PP ‘Aisyiyah hadir secara langsung Wakil Ketua PP ‘Aisyiyah yang membidangi LBSO, ibu DR. Siti Aisyah, M. Ag, Ketua LBSO PPA beserta jajaran, Ketua LBSO PWA Jawa Tengah beserta jajaran. Narasumber Webinar kali ini yang pertama, Ibu DR. Dra. Siti Maziyah, M. Hum, Ketua LBSO PWA Jawa Tengah dengan materi ” Wastra dan Kuliner Warisan Budaya Takbenda Jawa Tengah “. Narasumber kedua ibu Zulyana Samba, M.Pd.I dari LBSO Lampung, dengan materi ” Perpustakaan ‘Aisyiyah Corner“.

Dalam sambutannya Ketua LBSO PPA ibu Widyastuti, M. Hum menyampaikan, Sabtu dan Ahad bagi ‘Aisyiyah identik dengan berkegiatan, bukan weekend atau libur. Webinar sesi pertama kali ini menampilkan Praktik Baik dari PWA Jawa Tengah dan PWA Lampung, harapannya paling tidak ada tujuh kali lagi Webinar yang sama dari Wilayah yang lain. LBSO berusaha mengeksplore Praktik Baik dari setiap Wilayah yang siap ditularkan kedaerah yang lain, atau minimal Praktik Baik dari suatu Wilayah dapat menginspirasi atau memotivasi daerah yang lain. Untuk menyongsong Muktamar ‘Aisyiyah tahun 2027, perlu mengeksplore Praktik Baik yang sudah dikerjakan, sehingga kedepannya inovasi seperti apa yang diperlukan LBSO. Periode ini LBSO cukup eksis , bukan hanya pelengkap tetapi pokok. Webinar kali ini diharapkan dapat mempraktikkan apa yang akan disampaikan oleh LBSO PWA Jawa Tengah maupun LBSO PWA Lamoung, kemudian dapat menghabitasi Praktik-Praktik Baik yang ada. LBSO diharapkan dapat menjadi salah satu solusi rekruitmen Kader, seperti yang terjadi di Kalimantan Utara. LBSO ada itu untuk memperluas spektrum Dakwah ‘Aisyiyah.
Dalam paparannya Ketua LBSO PWA Jawa Tengah menyampaikan, mengapa Wastra dan Kuliner, disini diuraikan menjadi lima point, yaitu Dimanakah Jawa Tengah itu, Apakah Kebudayaan itu, Apakah Warisan Budaya itu, mengapa Wastra, mengapa Kuliner. Jawa Tengah ya berada di Pulau Jawa bagian Tengah yang terdiri dari 35 Kabupaten dan Kota. Kemudian apa yang dimaksud dengan Kebudayaan, Kebudayaan adalah cipta karsa dan rasa yang dihasilkan oleh kehidupan manusia. Wujud Kebudayaan ada yang dapat dilihat dan ada yang tidak dapat dilihat atau abstrak, Sedang Warisan Budaya adalah sesuatu yang diwariskan. Ada dua macam Warisan Budaya yaitu Warisan Budaya Benda semua hal yang terkait dengan kebendaan dan Warisan Budaya Takbenda. Warisan Budaya Benda berupa Cagar Budaya sedang Warisan Budaya Takbenda berupa segala bentuk, praktik ekspresi, pengetahuan yang dianggap sebagai warisan budaya sebuah komunitas. Karena etnis yang satu dengan lain itu berbeda, Jawa Tengah yang mempunyai 35 Kota dan Kabupaten juga mempunyai ciri khas yang berbeda. Lebih fokus pada non materiil yang diwariskan secara turun temurun, biasanya menggunakan lisan.
Ketrampilan dan Kerajinan Tradisional serta Pengetahuan Tradisional merupakan fokus bahasan dalam materi ini. Di Jawa Tengah Pengetahuan Tradisional yang akan dibahas adalah Wastra dan Kuliner. Wastra itu apa, Wastra adalah Kain tradisional yang mempunyai motif, warna dan simbol, ukuran dan juga bahan. Wastra yang ada di Indonesia adalah Batik, Tenun dan Songket, sementara di Jawa Tengah ada Tenun dan Batik, ini merupakan warisan budaya. Di Jawa Tengah penghasil Tenun di Klaten, Tenun Lurik dan Tenun ikat dari Jepara. Tenun Lurik dari Klaten ada corak Tenun Luluh Watu yang sudah ada sejak abad 9, kemudian corak sapit Urang yang biasa dipakai para Pembesar kala itu. Untuk tenun Ikat dari Jepara karena merupakan industri kreatip sehingga masing-masing produsen dalam membuat Tenun ikat agak disembunyikan, karena akan sangat mudah ditiru oleh pihak lain, dengan hanya melihat gambar saja. Sedang Batik di Jawa Tengah, masing -masing daerah mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Pusat Batik di Jawa Tengah yang terkenal adalah Pekalongan, Solo, Yogya dan Lasem. Walaupun didaerah lain juga ada produksi dan pengrajin batik. Batik Pekalongan terkenal dengan warna yang cerah, sedang untuk solo dan Yogya dikenal dengan Batik sogan.
LBSO PWA Jawa Tengah, berhasil memproduksi Batik sebagai Seragam ‘Aisyiyah Jawa Tengah, diawali dengan menyelenggarakan lomba desain batik pada tahun 2013, juara 1 yang terpilih kemudian diputuskan menjadi Seragam ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Proses terlaksana sebagai Seragam ‘Aisyiyah cukup lama, terpilih motif Batik Juara 1 di tahun 2013, Seragam ‘Aisyiyah Jawa Tengah dipakai pertama kali dalam Muktamar ‘Aisyiyah ke 48, tahun 2022 di Solo. Dari pemilihan kombinasi warna dasar, kombinasi motif dan juga kerudung yang serasi. Serta harga yang terjangkau untuk warga ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Yang paling bagus motif Batiknya dari Kudus, tetapi harga jualnya perpotong Rp.700.000,-

Kuliner, apa yang dilakukan LBSO PWA Jawa Tengah. Kuliner merupakan warisan Budaya Takbenda turun temurun jika tidak diinventarisasi maka rawan hilang, Sehingga LBSO PWA Jawa Tengah berinisiatip menginventarisasi kuliner Jawa Tengah menjadi dua Katagori yaitu Kumpulan Kuliner Jawa Tengah dan Kumpulan Jajanan Tradisional Jawa Tengah. Dikumpulkan dari 35 Kabupaten dan Kota yang ada, masing-masing daerah diminta mengumpulkan satu jenis kuliner khas yang ada didaerahnya baik, namanya, resep, cara mengolahnya dilengkapi dengan foto masakan. Serta mengirimkan 3 jenis jajanan tradisional lengkap dengan nama, resep, cara membuatnya juga foto dari jajanan tersebut.Kesimpulan dari paparan Ketua LBSO PWA Jateng adalah, Warisan Budaya Takbenda perlu diinventarisasi, LBSO memanfaatkan Batik sebagai warisan budaya untuk Seragam ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Hal ini membangkitkan Ekonomi kreatip. Pembuatan buku Kuliner merupakan upaya melestarikan budaya kuliner Jawa Tengah.

Narasumber kedua ibu Dra Zulyana Samba, M.Pd.I, berjudul “Perpustakaan ‘Aisyiyah Corner” ini adalah Kerja sama LBSO PWA Lampung dengan Dinas Perpustakaan Propinsi Lampung. Beliau menyampaikan berawal dari mengapa Ruang baca. Karena setiap kali PWA ada tamu dari PP Muhammadiyah maupun Aisyiyah , setiap kali para tamu tampil kalimat yang beliau sampaikan mengalir tanpa putus seperti orang membaca. Ibu Zulyana beranggapan bahwa literasi ada dikepala para tamu yang mengalir tanpa jeda. Sehingga LBSO PWA Lampung mempunyai ide bagaimana menghadirkan ruang baca, dengan pertimbangan bahwa Perpustakaan Wilayah itu ada ditengah kota, dikelilingi Lembaga Perguruan tinggi baik Negeri maupun Swasta, sedang Perguruan Tinggi Muhammadiyah hanya berjarak sekitar 250m. Akhirnya muncul gagasan bagaimana agar kegemaran membaca ditumbuhkan kembali. Sehingga Perpustakaan Wilayah dapat mengembangkan Literasi. Untuk mewujudkan ini ternyata tidak mudah menurut ibu Zulyana LBSO PWA Lampung.
Langkah awal yang dilakukan adalah bersurat kepada ibu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Lampung, agar gagasan terwujud. Balasan yang diterima adalah Perpustakaan Wilayah menyiapkan Ruang untuk LBSO PWA Lampung dilantai 2. Ternyata dilantai 2 kurang strategis dan pengunjungnya tidak banyak. Sambil menuggu proses selanjutnya, terjadi pergantian Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. LBSO PWA Lampung menghadap lagi sekaligus minta tempat yang lebih strategis. Perpustakaan Lampung Bangunannya sangat besar dan luas ada sekitar 2000m2, koleksi buku ada 212.273 eksemplar. Sementara di Persyarikatan koleksi literasi tersimpan rapi dirumah masing–masing. Akhirnya LBSO PWA Lampung mendapat Ruang pojok yang strategis berukuran 3.5 m x tak terbatas. Silakan manfaatkan semaksimal mungkin semampunya, disamping itu ada pesan bahwa LBSO PWA Lampung untuk dapat beraudiensi dengan Ketua TP PKK Propinsi Lampung, diterima positip dan TP PKK ingin bekerjasama dalam betuk yang lain. Masjid luas, sehingga diharapkan Majelis Tabligh ‘Aisyiyah dapat menyelenggarakan pengajian bersama Perpustakaan.
Kendala yang dihadapi LBSO PWA Lampung adalah, koleksi buku yang ada baru sekitar 300 eksemplar buku Persyarikatan. Sudah bersurat ke MPI PP Muh dan Perpustakaan UMY, mohon bantuan buku. Kendala berikutnya adalah Ongkos kirim Buku dari Yogya ke Lampung.Solusi yang diambil adalah jika ada yang pergi ke Yogya titip untuk mengambil buku. Buku yang terpajang belum boleh dipinjam untuk dibawa pulang, masih sekedar dibaca ditempat Karena belum punya Petugas secara khusus , sambil menitip kepada Petugas Perpustakaan Propinsi. Juga karena buku yang terpajang masih terbatas. Selain itu LBSO baru ada 9 daerah di Lampung dan masing–masing sudah mempunyai sudut baca didaerahnya.
Dalam diskusi ada beberapa pertanyaan yang disampaikan terkait dengan Wastra dan Kuliner juga Perpustakaan, sedikit catatan dari Ketua LBSO PPA bahwa Perpustakaan akan menjadi pusat Inventarisasi dari Dokumen-Dokumen yang dimiliki Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah, Sehingga tidak akan terjadi jika berganti Pengurus produk yang dihasilkan tidak terkonek. Konklusi dari ibu Wakil Ketua PP ‘Aisyiyah yang membidangi LBSO ibu DR. Siti Aisyah, M.Ag, menyampaikan apresiasi untuk DIGDAYA, di Muhammadiyah Dakwah Kultural menjadi orientasi lokal maupun Global. Budaya yang dikembangkan tidak dapat meninggalkan nilai–nilai Islam. Ibu Bariyah dalam Konggres ‘Aisyiyah tahun 1932, dalam pidato judulnya Literasi. Lecture Perempuan ” Sangat jahat dan dosa besar, orang–orang yang menghalangi perempuan belajar“. Ditahun ini juga juga diusulkan adanya ” Gedung Buku Khusus Perempuan“. Kemudian ibu Aisyah Hilal dalam pidatonya pada 15 tahun Suara Aisyiyah, tahun 1941, mengatakan ” Tak putus–potus dan berhenti moga-moga Suara Aisyiyah dapat menduduki tempat Istimewa dalam perpustakaan keputrian.
Pekalongan, 25 April 2026