Rahmat Museum and Gallery

Endang Supriyati, Kota Pekalongan

Rahmat International Wildlife Museum and Gallery pertama dan satu-satunya. Berlokasi di Jalan S Parman, nomor 309 Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, kota Medan,  Sumatera Utara. Rahmat Museum dan Galeri , memiliki koleksi hewan buruan yang sudah diawetkan. Desain ruangan ditata bagaikan Kebun Binatang mini dengan koleksi sangat lengkap. 

Koleksi hewan hasil buruan bapak Rahmat Syah secara legal dari hutan berbagai negara.  Bapak Rahmat Syah adalah ayah kandung artis papan atas Ralyn Syah. Koleksi hewan sebanyak 2600 species dari berbagai belahan dunia. Hobbi berburu bapak Rahmat sejak masih muda. Penjelasan dari tour guide yang membersamai kami di Musium Rahmat Gallery.

Sehingga koleksi hewan buruan sangat banyak,  dari hewan yang paling kecil Semut, Serangga sampai hewan yang sangat besar Gajah, Beruang serta hewan tertinggi Jerapah pun ada. Untuk semut, serangga ,tidak diburu tetapi hewan yang sudah mati diawetkan. 

Koleksi hewan terlihat nyata seperti berada di habitatnya, karena dilengkapi dengan backsound baik suara-suara hewan ataupun penjelasan tentang asal usul hewan. Semua koleksi hewan berada dalam ruangan dari negara mana hewan-hewan itu berasal. Kanguru berasal dari Benua Australia misalnya berada dalam satu koloni binatang buruan yang didapat dari Australia. 

Kawanan bebek/ duck yang terlihat indah, cantik seperti dalam gambar berada dalam koloni burung.  Kalau bebek/duck tidak diburu tetapi hewan itu mati kemudian diawetkan. Tetapi juga ada hewan – hewan diperoleh dari sumbangan kolega bapak Rahmat. Untuk kawanan burung dan bebek bulu-bulunya asli. Benar – benar seperti berada dalam negeri dongeng,  karena sebagian besar hewan yang ada hanya dapat kita saksikan di televisi dalam acara Wildlife.

Subhanallah, sangat bersyukur dapat menyaksikan karunia Allah SWT tak ada bandingnya,  walaupun semua hewan itu sudah diawetkan. Tetapi karena perawatan serta pemeliharaan  sangat baik sehingga semua terlihat asli,  serta suhu ruang menyesuaikan habitat aslinya. Menyebabkan bulu bulu hewan buruan yang sudah diawetkan tidak rusak. 

Didalam setiap perburuannya bapak Rahmat didampingi guide yang akan menunjukkan lokasi perburuan, ataupun hewan mana yang dapat ditembak. Karena beliau tergabung dalam suatu komunitas perburuan yang legal, sehingga jika disuatu kawasan, hutan Afrika misalnya, ada hewan yang sudah layak ditembak akan ada pembertahuan. Hewan layak tembak adalah hewan yang sudah tua, kalau kambing gunung Afrika yang tanduknya panjang sudah melingkar. Semua berbiaya,  menembak seekor hewan membayar,  jika tembakkan tidak tepat sasaran hewan tidak langsung mati kena denda. Setelah hewan mati, kemudian ditinggal dinegara asal selama satu tahun untuk proses pengawetan.  Kemudian setelah selesei untuk membawa pulang ke Indonesia harus membayar lagi. 

Rahmat Museum dan Galleri dalam sebuah gedung megah berlantai tiga.  Dua lantai untuk koleksi hewan buruan, satu lantai berupa aula besar dapat menampung 500 orang, untuk ruang pertemuan ataupun disewakan untuk hajatan. Lantai satu berisi koleksi hewan buruan, lantai dua untuk species serangga serta,  hewan dari Indonesia juga berbagai macam penghargaan yang diterima bapak Rahmat. Tidak ketinggalan koleksi mata uang kertas dari berbagai negara juga coin. 

Harga tiket di Rahmat Museum dan Gallery Rp 75.000,- untuk orang dewasa, Rp 25.000,- untuk anak – anak. Mengingat hasil pengetahuan serta wawasan yang akan kita peroleh, harga tiket ini cukup murah. Karena Museum dan Gallery ini satu-satunya, belum ada tanding. Di Batu Malang, Jawa Timur ada juga, museum serupa, tetapi koleksi tidak selengkap di Rahmat Museum dan Gallery demikian juga di Singapura. Berfoto dengan gambar/patung pemilik Gallery.

Salah satu ruangan yang ada di desain khusus Night Safari,  kawasan hutan dimalam hari. Ruangan gelap gulita dilengkapi suara binatang malam yang mencekam,  seperti auman harimau juga serigala yang menyalak saling bersautan. Ternyata merinding juga bulu kudhuk ini,  menatap mata harimau merunduk diposisikan seperti siap menerkam. 

Terima kasih sangat Prof. Imam sensei, berada dalam komunitas IRo Society membuka cakrawala berpikir saya. Sehingga setiap kali melakukan perjalanan,  ,mendapatkan suatu pengalaman tergerak untuk menuliskan. Yang selama ini jarang sekali bahkan hampir tidak pernah saya lakukan. Tetapi dalam komunitas IRo Society, selalu ingin membagi pengalaman kepada, bapak ibu sahabat IRotizen yang luar biasa. Walaupun tulisan saya seringkali masih berantakan, serta seringkali kurang pas dalam penggunaan kata. Hanya terngiang nasehat Prof. Imam ” tulis ..tulis… jangan takut salah, karena pasti banyak salah “.

Sekali lagi terima kasih sangat Prof. Imam sangat beruntung saya  berada dalam komunitas yang luar biasa ini. 

Sumber : Rahmat Museum & Gallery

Afifah House Medan, 9 Maret 2022

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?